www.AlvinAdam.com

Berita 24 Aceh

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Tradisi Meugang di Aceh

Posted by On 08.03

Tradisi Meugang di Aceh

Opini

Tradisi Meugang di Aceh

UROE (hari) meugang atau makmeugang adalah satu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di Aceh

Tradisi Meugang di AcehSERAMBINEWS.COM/RIZWAN

Oleh Murni

Sultan Iskandar Muda nyang peu phon meugang/ Rakyat pih seunang na soe peuduli/ Sie ka geu tumpok oh leuh geu cang-cang/

Mandum nyang na hak laju geu bagi | Sultan Iskandar muda pemula meugang/ Rakyat pun senang ada yang peduli/ Daging ditumpuk setelah di cincang/ Semua yang berhak langsung dibagi (Nadham Aceh)

UROE (hari) meugang atau makmeugang adalah satu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di Aceh. Tradisi ini berlangsung tiga kali dalam setahun, yaitu meugang puasa, meugang uroe raya p uasa (menjelang hari raya Idul Fitri), dan meugang uroe raya haji (menjelang hari raya Idul Adha).

Tradisi meugang tersebut yaitu tradisi dengan memakan daging sapi atau kerbau. Bagi masyarakat Aceh, menyambut Ramadhan atau lebaran tanpa meugang akan terasa hambar. Walaupun bukan sebuah kewajiban, namun sudah menjadi keharusan, sehingga jarang dijumpai pada masyarakat Aceh yang tidak makan daging sapi atau kerbau menjelang Ramadhan tiba.

Hari meugang juga sudah menjadi wadah membangun hubungan kekeluargaan dalam konteks islami. Sebab itu, tidak sedikit pada hari meugang, warga Aceh yang merantau ke tempat lain pulang ke kampung halaman untuk menikmati daging meugang masakan sang ibu tercinta, yang telah menunggu kepulangan sang anak yang menuntut ilmu atau lainnya di perantauan.

Perasaan sedih bahkan menetes air mata seandainya pada hari meugang tidak sempat makan masakan ibu kandung karena sedang merantau. Bahkan, jika kita kilas balik kembali jauh pada masa ma sih kanak-kanak, di pagi uroe meugang, Ayah pergi ke pasar dengan mengayuh sepeda tua sekadar untuk membeli minimal 1-2 kg daging sapi atau kerbau, beserta rempah-rempah.

Setiba di rumah dengan pakaian basah berkeringat tetapi tetap semangat lalu meminta kepada Ibu untuk dimasak, sebagian dibuat gulai kari dan sebagian lagi dimasak rendang. Siang hari seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan dengan membaca doa, setelah itu menyantap masakan daging meugang masakan Ibu tercinta.

Perasaan senang dan suasana meungang menjelang masuk bulan Ramadhan sangat kental terasa pada saat itu. Alangkah bahagianya kita pada saat itu tidak terkecuali tetangga dan sanak famili, orang miskin ataupun orang kaya semuanya sama-sama menikmati suasana meugang menjelang masuknya bulan suci Ramadhan.

Sejarah meugang
Tradisi meugang di Aceh dimulai sejak masa kepemimpinan Sultan Aceh terbesar yaitu Sultan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636) di Kerajaan Aceh Darussala m. Pada saat itu sultan mengadakan acara menyembelih hewan ternak sapi dalam jumlah yang banyak dan dagingnya dibagi-bagikan kepada seluruh rakyatnya.

Halaman selanjutnya 123
Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
This is the current newest page
Previous
Next Post »