www.AlvinAdam.com

Berita 24 Aceh

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Bahasa Klopriep di Aceh

Posted by On 18.22

Bahasa Klopriep di Aceh

Bahasa Klopriep di Aceh

Sejak zaman dahulu sudah dikenal dan digunakan istilah “klopriep” di Aceh. Hal ini bias dicermati dari adanya

Bahasa Klopriep di AcehPESERTA lomba pidato bahasa Indonesia tampil pada hari pertama Pekan Kreativitas Santri Dayah Perbatasan di Kompleks Dayah Perbatasan Safinatussalamah, Desa Biskang, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil

Oleh : Dr. Jarjani Usman, M.Sc., M.S.

Sejak zaman dahulu sudah dikenal dan digunakan istilah “klopriep” di Aceh. Hal ini bias dicermati dari adanya istilah “klopriep” yang ditujukan untuk orang yang sangat bandel atau susah diatur dalam kehidupan bermasyarakat. Istilah itu memang sangat ekstrim maknanya, apalagi diambil dari dua kata dalam bahasa Aceh, yaitu “klo” (pekak) dan “priep” (peluit).

Maknanya adalah sudah demikian besar sulit peluit ditiup, masih tak terdengar atau tak mau dipatuhi olehsebahagian orang. Realitas memprihatinkan ini bisa diamati pada sejumlah pamplet larangan. Pada lampu lalu lintas, misalnya, bukan hanya lampu berwarna merah, kuning, dan hijau yang diperlukan. Juga dibutuhkan tulisan “Dilarang menerobos”. Padahal sebenarnya, dengan adanya lampu berwarnamerah sudah berarti larangan menerobos.

Namun yang terjadi dalam kenyataan malah sebaliknya. Walaupun sedang menyala lampu warna merah yang berarti harus berhenti dan larangan menerobos dan juga terdapat tulisan “larangan menerobos”, masih banyak juga orang yang tak mau peduli. Tua-muda, miskin-kaya, alim-tidak alim, tak mau peduli. Saya perhatikan, tak sedikit orang yang berpeci dan berpendidikan tinggi langsung menerobos lampu merah. Ini menunjukkan bah wa sebahagian orang memang klopriep.

Bukan hanya suka menerobos lampu lalu lintas, sebahagian orang di Aceh juga klopriep dalam hal buang sampah sembarangan. Termasuk di jalan raya. Misalnya, di sejumlah jalan di Aceh diletakkan bungkusan-bungkusan sampah rumah tangga. Kalau dalam wilayah Aceh Besar, misalnya, sampah sering diletakkan di jalan menuju Lambaro, di jalan samping Krueng Lamnyong dari Lamreung ke Cot Irie, di jalan dari Darussalam menuju Banda di wilayah Tungkop, dan lain-lain. Bahkan di Aceh Utara, tepatnya di Pasar Geudong, sampah bertumpuk-tumpuh dan dimasukkan ke dalam pos satpam hingga penuh sesak.

Padahal di sejumlah tempat, sudah diberikan tanda “Dilarang membuah sampah disini”. Bahkan ada larangan yang lemah lembut hingga larangan yang lemah terkulai bila membacanya karena saking kasarnya. Misalnya (maaf): “Hai bui, nyo kon atra ma kah, beik kaboeh sampah hino” (hei babi, ini bukan kepunyaan mama kau, jangan buang sampah di sini). Meskipun s udah sedemikian keras tulisan larangan tersebut, sebahagian orang tak mau peduli. Sampah tetap dibuang di sana.

Di jalan samping Krueng Lamnyong dariLamreung ke Cot Irie, Krueng Barona Jaya, misalnya, pernah menumpuk sampah hingga menggunung. Saking banyaknya (sampah), terpaksa pihak pemerintah setempatmengerahkan alat berat untuk menggali sampah yang sudah demikian tertimbun dan membuat pencemaran di wilayah tersebut dan mengangkutnya entah ke mana.

Sebenarnya bukan hanya laranganmenerobos lampu merah dan buang sampah sembarangan yang tak dipatuhi, tetapi juga dalam hal larangan merokok. Di mana-mana ada larangan merokok di sejumlah tempat publik di Aceh, mulai dari masjid hingga rumah sakit. Larangan itu wajar mengingat banyak orang lain akan terganggu akibat sebahagian orang merokok sembarangan. Namun apa yang terjadi, tak sedikit orang yang merokok.

Di pekarangan rumah sakit seperti Puskesmas atau rumah sakit besar lainnya, banyak dijumpai orang-orang yang m erokok walau duduk bersebelahan dengan ibu-ibu yang sedang menggendong anak-anaknya. Padahal sudah jelas dilarang karena bisa mengganggu kesehatan anak-anak dan ibuibu yang ada di sampingnya.

Namun dasar klopriep, para perokok tak mau tahu apa akibatnya terhadap orang lain. Seandainya mau menerapkan ajaran Islam dengan baik, maka larangan-larangan seperti itu akan dipatuhi dengan karena Allah. Soalnya, semua itu mengganggu hakhak orang lain. Menerobos lampu merah, misalnya, itu jelas mengambil hak orangorangyang sedang berada di jalan yang lampu hijaunya sedang menyala. Membuang sampah sembarangan juga melanggar hak orang lain, mulai yang punyalahan hingga para pengguna jalan raya.

Bahkan perbuatan itu merusak alam. Islam mengajarkan kita untuk tidak menggangguorang lain dengan apa saja (misalnya, katakata dan perbuatan) dan melarang merusak alam. Sampah plastik tak akan membusuk, sehingga merusak tanah. Bau busuk yang menyebar juga mengganggu orang-orang yang melewati kawasan tersebut. Tumpukansampah juga mengganggu pengguna jalan. Dan tentunya, tumpukan sampah akan mengganggu pemilik lahan, apalagi menggunakan lahan tersebut tanpa seizin mereka.

Merokok sembarangan juga menggangguorang lain, di samping menimbulkan kemuzaratan bagi kesehatan sendiri. Allah sangat melarang mengganggu orang lain. Allah juga melarang melakukan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kemuzaratan. Namun sebahagian berkilah bahwa merokok itu makruh, meskipun kenyataannya mengganggu orang lain dan merusak kesehatan tubuh diri sendiri.

Bahasa-bahasa seperti “Merokok makruh” bermakna ada celah untuk tidak terjebak dalam perbuatan haram bagi orangorang yang merokok. Tapi sayangnya, bahasa tersebut mengabaikan larangan/harammengganggu orang lain dan menimbulkan kemudharatan bagi tubuh sendiri. Padahal yang haram wajib dipatuhi. Semua kebiasaan itu akan sulit dihilangkan kalau tidak mau melaksanakan ajaran Islam secara kaffah.

Padahal Allah sudah memer intahkan untuk masuk ke dalam Islam secara sempurna, sebagaimana firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan” (QS. Al Baqarah: 208). Menurut Tafsir Ibnu Katsir, melalui ayat tersebut, AllahTaala memerintahkan kita hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya untuk memegang semua ikatan Islam dan syariat-syariat-Nya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya semampu kita.

Namun sayangnya, kita memasukinya setengahsetengah, meskipun mampu masuk lebih dalam dari itu terutama dengan mematuhi aturanaturan yang tidak mengganggu orang lain.

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »