www.AlvinAdam.com

Berita 24 Aceh

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kawal Ketat Perairan Aceh dari Pencuri Ikan

Posted by On 00.14

Kawal Ketat Perairan Aceh dari Pencuri Ikan

Salam

Kawal Ketat Perairan Aceh dari Pencuri Ikan

Hari Minggu kemarin Serambi Indonesia mewartakan kedigdayaan angkatan laut kita dengan judul ‘TNI-AL Sergap Kapal Buruan

Kawal Ketat Perairan Aceh dari Pencuri IkanKapal-kapal asing pencuri ikan yang ditenggelamkan di perairan Selat Lampa, Natuna, Kepulauan Riau.(KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWA)

Hari Minggu kemarin Serambi Indonesia mewartakan kedigdayaan angkatan laut kita dengan judul ‘TNI-AL Sergap Kapal Buruan Interpol’. Dilaporkan bahwa jajaran TNI Angkatan Laut (AL) di bawah Pangkalan TNI-AL (Lanal) Sabang pada Jumat (6/4) pukul 16.35 WIB menangkap k apal ikan asing, STS-50 yang sudah lama menjadi buronon Interpol. Penangkapan kapal yang kerap gonta-ganti nama dan bendera itu berlangsung di perairan Pulau Weh, Sabang.

Saat ini, kapal bersama 30 awaknya diamankan di Dermaga Lanal Sabang. Kapal yang disergap itu merupakan kapal berstatus stateless (tanpa negara), meskipun saat ditangkap kapal tersebut memasang bendera Togo, namun belakangan diketahui bahwa pemasangan bendera itu ilegal.

Kapal tersebut sempat beberapa kali berganti nama saat masuk ke sejumlah negara, sehingga STS-50 juga dikenal dengan nama lain, Sea Breeze atau Andrey Dolgov. Salah seorang dari 20 WNI di kapal itu, yakni Santoso asal Jawa Tengah mengatakan, kapal itu sering kesulitan menjual hasil tangkapannya, karena tidak dilengkapi dokumen resmi, sehingga sejumlah pihak di Vietnam menolak ikan mereka. Akhirnya, dari Vietnam kapal bergerak ke Korea untuk mengganti nama. Caranya adalah dengan mengecat ulang lambung kapal dan mengganti namanya, barul ah mereka berhasil menjual ikan ke kapal kecil di Tiongkok.

Namun, tak lama kemudian, kapal STS-50 tertangkap oleh aparat keamanan Tiongkok karena illegal fishing, lalu digiring ke Port Yantai, Tiongkok. Hanya beberapa hari di Tiongkok mereka berhasil melarikan diri. Dari pelabuhan Mozambik pun mereka pernah kabur. Kemudian, untuk menghindari pengejaran aparat keamanan mereka berpindah-pindah ke sejumlah negara.

Ditilik dari rekam jejaknya, kapal STS-50 ini memang tergolong ‘petualang nekat’ di tengah samudra raya. Selain terbiasa mencuri ikan, nakhoda kapal itu pun penuh siasat. Ia kreatif dalam menyaru. Mulai dari mengganti warna cat, nama kapal, sampai benderanya. Ia juga kerap berpindah-pindah negara demi menghindari pengejaran pihak Interpol.

Tapi tampaknya, sang nakhoda kapal ini kurang meresapi sebuah pepatah Melayu bahwa “sepandai-pandai tupai melompat, sesekali akan jatuh juga”. Nah, saat berlayar di Selat Malaka, dekat dengan Sabang, kapal ini pun menemui nahasnya.

Penangkapan kapal STS-50 berawal dari informasi perwira TNI-AL yang bertugas di International Liasion Officer (ILO) Information Fusion Center (IFC) Singapura yang melaporkan bahwa kapal buronan itu sedang berlayar dari Madagaskar menuju Selat Malaka. Panglima Armada wilayah Barat (Pangarmabar) pun langsung menyiagakan pasukan dan kapal di Lanal Sabang dan Lhokseumawe. Bahkan KRI Sigalu, KRI Alamang, dan pesawat Cassa P-852 ikut dikerahkan menuju pantai timur Aceh.

Setelah memastikan keberadaan kapal STS-50 mendekati wilayah Sabang, Kapal Angkatan Laut (KAL) Simeulue pun bergerak ke titik penyergapan, yaitu sekitar 13 km timur Sabang dan berhasil mengamankan kapal tersebut tanpa perlawanan, kemudian digiring ke Teluk Sabang. Setelah didata ternyata terdapat 30 ABK di dalam kapal itu. Terdiri atas 20 WNI, delapan warga Rusia, dan dua warga Ukraina. Adapun ikan hasil tangkapan sudah mereka jual saat kapal itu berada di Tiongkok. Di dalam kapal hanya ada jaring.

Nah, karena STS-50 merupakan buronan Interpol dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, maka kapal itu akan diserahkan kepada Satgas 115, yaitu Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal yang berada di bawah KKP.

Berkaca dari kejadian ini, tampak bahwa komunikasi dan koordinasi antaraparat keamanan menjadi kunci yang sangat penting untuk mematahkan petualangan si penjarah ikan yang menggunakan kapal canggih. Hal inilah yang paling penting diterapkan di Aceh, sehingga semua pihak kompak dan bahu-membahu membasmi setiap illegal fishing. Kalaupun nanti Aceh urung memiliki pesawat pemantau untuk mengawasi laut dan hutan Acehâ€"seperti diinginkan Gubernur Irwandi Yusuf--paling tidak komunikasi dan koordinasi seperti inilah yang harus tetap dirintis dan dipelihara agar secanggih apa pun kapal penjarah ikan bisa tetap kita sergap dan lumpuhkan di perairan Aceh. Dengan tetap menggalang kerja sama dan berkoordinasi, mari kita kawal ketat perair an Aceh dari setiap tindak penjarahan ataupun perusakan biota laut, baik melalui aksi pengeboman, penggunaan pukat trawl, maupun berbagai tindakan destruktif lainnya. Laut Aceh harus terjaga dari setiap aksi penjarahan, karena di lautlah masa depan dan kedaulatan ekonomi Aceh. Jales veva jaya mahe, di laut kita berjaya. Semoga.

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »