www.AlvinAdam.com

Berita 24 Aceh

Terpopuler Bulanan Ini

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kisah penjaga pantai Aceh yang ingin lenyapkan trauma tsunami

Posted by On 22.54

Kisah penjaga pantai Aceh yang ingin lenyapkan trauma tsunami

]]> Kisah penjaga pantai Aceh yang ingin lenyapkan trauma tsunami

aceh, pantaiHak atas foto Tom de Souza
Image caption Salah seorang penjaga panta i di Pantai Lampuuk, Aceh.

Minggu sore dan Pantai Lampuuk penuh oleh khalayak yang bertamasya. Mereka sebagian besar datang dari Banda Aceh, meski ada pula yang berkunjung dari Medan. Selagi mereka bercanda ria di pantai, empat penjaga pantai di sebuah gardu kayu memandang dengan tatapan awas.

Pada Desember 2004, seluruh kawasan ini tersapu bersih oleh gelombang tsunami. Banyak orang meninggal dunia dan kalaupun ada penyintas, mereka hanya menyisakan baju di badan.

Bencana ini awalnya membuat penduduk setempat trauma dan tidak berani menginjakkan kaki di bibir pantai, apalagi berenang. Namun, berkat kemajuan ekonomi, upaya rekonstruksi, serta kesepakatan damai antara kubu separatis, Pantai Lampuuk berubah menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi turis.

  • Menanti bioskop di Aceh: Film Cut Nyak Dien, konflik bersenjata dan Perda Syariat Islam
  • Petani kopi Gayo Aceh kelu hkan panen menurun 'akibat perubahan iklim'
  • Kuliner Mie Aceh, antara isu ganja, hikmah tsunami dan GAM

Kondisi tersebut mendorong sejumlah pemuda setempat untuk menjadi penjaga pantai demi memastikan keamanan para pengunjung.

Pada 2016, mereka membentuk persatuan resmi dan mengutus enam orang untuk dilatih seorang anggota Bali Badung Balawistaâ€"sebuah organisasi penjaga pantai profesional di Bali yang didirikan sejak era 1970-an.

Rangkaian pelatihan itu belakangan menjadi pegangan para penjaga pantai di Aceh. Bahkan, organisasi yang mereka bentuk meniru prinsip-prinsip Bali Badung Balawista.

Hak atas foto Tom de Souza
Image caption Berbagai rambu dan perlengkapan keselamatan dipasang di Pantai Lampuuk.

Keberadaan organisasi Balawista Acehâ€"yang kini beranggotakan 150 orangâ€"mendapat sokongan dari Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Pariwisata yang memberikan subsidi pelatihan dan perlengkapan keselamatan, seperti jaket pelampung serta tangki oksigen.

Meski demikian, pemprov berkeras agar Balawista Aceh menopang pendanaan operasional sehari-hari secara mandiri.

Kepala Balawista Aceh, Dian Faizin, mengatakan mereka tidak bisa berfungsi secara optimal tanpa pendanaan yang memadai.

"Kita masih volunteer semua. Penghasilan kita secara masih disupport oleh pengelola pantai. Jadi pengelola pantai membagikan sedikit kepada kita untuk sebagai uang kopi atau makanlah. Untuk kita latihkan lagi, ada rencana, tapi kita tidak ada dana. Tapi kalau misalnya dari Dinas Pariwisata, mereka ini ingin melakukan, kita siap membawakan orang kita," katanya.

Pendanaan

Untuk mencari pendanaan, Baliwista Aceh sejatinya bisa menyewakan perlengkapan keselamatan yang dipasok Pemprov Aceh.

Akan tetapi, ada kendalanya. Khairuddin, perenang otodidak yang telah menjadi penjaga pantai di Pantai Lampuuk selama dua tahun, mengatakan masyarakat enggan menyewa jaket pelampung.

"Kalau dengan sewa pelampung itu jadi keamanan berenang, itu lebih aman sebenarnya. Jadi kebanyakan orang, orang Aceh ini orang kita, malas menyewakan dengan harga segitu padahal keamanan mereka lebih kejamin dengan pakai pelampung," katanya kepada wartawan Tom de Souza untuk BBC Indonesia.

Dengan demikian, para penjaga pantai harus mencari cara untuk mendapat rupiah. Salah satu metodenya adalah menyewakan perahu pisang (banana boat) dan jet ski milik pengelola pantai.

Hak atas foto Tom de Souza
Image caption Para penjaga pantai tidak mendapat gaji secara rutin dari pemerintah provinsi Aceh.

Kepala Dinas Pariwisata, Reza Falevi, mengatakan praktik itu berbahaya karena membuat penjaga pantai tidak fokus pada tugasnya.

"Kita akui belum semuanya terstruktur dengan baik. Artinya ada penjaga pantai tapi dia bertugas juga, operator banana boat, misalnya. Ini tentu ke depan, tidak akan seperti itu lagi. Jadi memang orang yang khusus itu bertugas di penjaga pantai, bukan sambilan," papar Reza.

Bagaimanapun, Reza juga tidak memberi solusi soal pendapatan para penjaga pantai.

"Kalau gajian, tidak. Tapi yang kita melakukan pelatihan-pelatihan, bantuan untuk peralatan, yaitu ke reguler subsidi dari pemerintah," cetusnya.

Penjaga pantai perempuan

Di seluruh Provinsi Aceh, ada sekitar 150 penjaga pantai. Kurang dari setengahnya tidak mendapa t pelatihan yang layak untuk menyandang profesi tersebut.

Pada Oktober 2017, seorang pria tenggelam di Pantai Lampuuk, walaupun para penjaga pantai saat itu bertugas.

Kepala Dinas Pariwisata, Reza Falevi, mengaku berencana melatih semua penjaga pantai dan meluaskan program pelatihan ke berbagai pantai yang ramai dikunjungi turis.

Hak atas foto Tom de Souza
Image caption Pemerintah Provinsi Aceh berencana melatih sejumlah perempuan untuk menjadi penjaga pantai agar bisa menolong sesama perempuan dalam kondisi darurat.

Tak hanya itu, Reza juga mencetuskan ide agar sejumlah perempuan bisa pula berprofesi sebagai penjaga pantai untuk menyelamatkan sesama perempuan dalam kondisi darurat.

"Saat ini belum ada penjaga pantai yang perempuan di Aceh. Perlu, saya pikir perlu, karena yang mandi itu kan turis juga bukan hanya laki laki ya. Perlu penanganan-penanganan untuk wanita, lebih baik kan ditangani oleh wanita. Akan ada," katanya.

Siang itu, Pantai Lampuuk ramai pengunjung yang berdatangan dari desa setempat dan berbagai penjuru Aceh. Walau sejumlah penjaga pantai bertugas, beberapa orang masih takut berenang di pantai sejak tsunami melanda, seperti pemilik warung, Mardiana.

"Dulu, hampir setiap hari saya mandi laut. Waktu tsunami, habis semua di dalam 15 menit. Sekarang saya tidak mau berenang lagi. Takut saya," katanya.

Trauma rakyat Aceh, seperti yang dialami Mardiana, disayangkan Khairuddin. Karena itu, dia bertekad kehadirannya dan rekan-rekannya bisa membantu melenyapkan trauma khalayak Aceh untuk kembali ke laut.

"Untuk kita, pemukiman Lampuuk, lautnya adalah cara hidup kita. Ini menyediakan maka nan, kesenangan, penghasilan. Jadi penjaga pantai, kami rasa tanggung jawab. Jadi kalau Pantai Lampuuk lagi aman, kehidupan kita sudah kembali terbiasa," tandasnya.

Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »