www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Keluarga Rentan Ancam Masyarakat Aceh

Posted by On 03.30

Keluarga Rentan Ancam Masyarakat Aceh

Opini

Keluarga Rentan Ancam Masyarakat Aceh

SAAT ini kerentanan keluarga di Aceh telah menimbulkan kegelisahan. Beberapa masalah sosial seperti remaja dan narkoba, prostitusi anak

Keluarga Rentan  Ancam Masyarakat AcehSERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAILBupati Pidie, Roni Ahmad atau Absyik (Kiri) bersama Unsur Muspida Plus membakar Barang Bukti (BB) ganja sebanyak 411 Kg yang disita dari lima pelaku, Rabu (21/3/2018) di halaman Sat Narkoba Polres Pidie.

Oleh Rasyidah

SAAT ini kerentanan keluarga di Aceh telah menimbulkan kegelisahan. Beberapa masalah sosial seperti remaja dan narkoba, prostitusi anak, pergaulan bebas, pornografi-pornoaksi, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain, dianggap terkait erat dengan lemahnya ketahanan keluarga.

Keluarga yang memiliki ketahanan yang baik, berpotensi menjadi ruang komunikasi, dan kontrol yang saling menguatkan bagi anggotanya. Sebaliknya, keluarga yang rentan tidak mampu menjadi benteng, dan anggotanya gampang terpapar pengaruh buruk, saling menyalahkan dan mencari pelarian sebagai alternatif kebahagian.

Ketahanan keluarga
Menurut pakar keluarga, Chapman, lima tanda ketahanan keluarga adalah: Adanya sikap melayani sebagai tanda kemuliaan; Keakraban suami istri menuju kualitas perkawinan yang baik; Orang tua yang mengajar dan melatih anaknya dengan penuh tantangan kreatif, konsisten, dan mengembangkan keterampilan; Suami istri yang menjadi pemimpin dengan penuh kasih sayang; Anak anak yang mentaati dan menghormati orang tuanya.

Sementara menurut Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) No.6 Tahun 2013, ada lima dimensi pengukur ketahanan keluarga, yaitu: (1) landasan legalitas dan keutuhan keluarga, (2) ketahanan fisik, (3) ketahanan ekonomi, (4) ketahanan sosial psikologi, (5) ketahanan sosial budaya.

Jika kita melihat bagaimana kondisi ketahanan keluarga di Aceh, maka kekhawatiranlah jawabannya, karena ternyata kondisi keluarga di Aceh adalah rentan. Kerentanan terkait tertib administrasi; menurut data Profil Perkembangan Kependudukan Aceh 2017, dari 2.142.007 jumlah perkawinan di Aceh hanya 20% yang memiliki Akta Perkawinan. Padahal Akta Perkawinan menjadi prasyarat bagi setiap keluarga untuk mendapatkan haknya, serta layanan pembangunan yang terkait dengan status perkawinan.

Selain itu, kepemilikan Akta Lahir di Aceh juga rendah, hanya 38%. Sama halnya dengan kepemilikan Akta Perceraian. Pada 2016, hanya 7.032 penduduk (2,76%) dari penduduk berstatus cerai yang memiliki Akta Perceraian. Rendahnya kepemilikan Akta Nikah, Akta Kelahiran dan Akta Perceraian mengindi kasikan rentannya landasan legalitas keluarga.

Selain keluarga terhalang mendapatkan haknya, kondisi ini juga berpeluang menimbulkan kesemrawutan status pernikahan, yang memungkinkan baik perempuan atau laki-laki menelantarkan tanggung jawabnya di satu keluarga, dan memulai keluarga lainnya secara sirri. Fakta menunjukkan, banyak keluarga yang terlantar karena suami atau istri meninggalkan perkawinan dan melepaskan tanggung jawabnya, untuk kemudian menikah lagi dengan status lajang.

Fenomena lainnya adalah tingginya persentase pernikahan dini di Aceh. Menurut data, Aceh Dalam Angka 2016, terdapat 3,08% perempuan yang menikah di usia 15 tahun, dan 19,53% yang menikah di usia 16-18 tahun. Ini berarti ada 23% pernikahan yang terjadi adalah pernikahan anak, di mana perempuannya berusia 18 tahun ke bawah. Jumlah ini tergolong banyak dan identik dengan pernikahan yang rentan perceraian. Pernikahan dini juga berkonstribusi memperpanjang siklus kemiskinan, khususnya pada kasus married by accident. Di mana baik suami dan istri yang sama-sama usia anak, terpaksa putus sekolah dan serta-merta menjadi ayah dan ibu di usia yang seharusnya masih menikmati kasih sayang sebagai seorang anak, dan tergantung secara ekonomi.

Kerentanan keluarga di Aceh juga terindikasi dari diharmonisasi keluarga. Menurut data Profil Gender di Aceh 2017: empat bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) yang paling dominan terjadi selama dua tahun terakhir adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ini mengindikasikan rumah tangga menjadi lokasi terjadinya kekerasan yang paling tinggi.

Halaman selanjutnya 12
Editor: hasyim Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »