www.AlvinAdam.com

Berita 24 Aceh

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa

Posted by On 18.17

Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa

Opini

Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa

DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh

Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian BahasaKepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Kemenag RI, Choirul Fuad Yusuf (kiri) dan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA menandatangani naskah kerja sama penerjemahan Alquran dalam bahasa Aceh, Jumat (24/3) di kampus tersebut. FOTO-HUMAS UIN AR-TANIRY

Oleh Septhia Irnanda

Literature together with language preserves and protects a nation’s soul (Tulisan bersama-sama dengan bahasa menjaga dan melindungi jiwa sebuah ban gsa). - Aleksandr Solzhenitsyn

DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh asli, tapi tidak bisa berbicara Bahasa Aceh. Begitu pula saat ada orang Aceh yang kita jumpai berbicara Bahasa Aceh dengan aksen yang tidak fasih. Namun ironisnya, tidak ada seorang pun yang keberatan saat orang menulis Bahasa Aceh dengan standar penulisan yang tidak baku. Tidak ada yang marah saat ejaannya salah, namun semua protes saat pengucapannya salah. Semua berteriak lantang tentang pentingnya menjaga eksistansi bahasa endatu ini, namun tidak ada yang benar-benar menghargai dan menghormati kabakuan penulisannya. Sepertinya kita ingin membiarkan Bahasa Aceh tetap menjadi bahasa Spoken saja di dunia percakapan dan tidak benar-benar berniat mengangkatnya ke dunia yang sedikit lebih panjang umur, dunia tulisan.

Perhatikan bagaimana kita dengan seriusnya membahas tentang teknologi dan ilmu pengetahuan dengan Bahasa Ind onesia, lalu beralih ke Bahasa Aceh hanya untuk bersenda gurau dengan teman di warung kopi. Lihat bagaimana para orang tua muda di perkotaan yang berkasih-sayang dengan anak-anaknya dalam Bahasa Indonesia, lalu saat si anak berulah, mereka beralih menggerutu dalam Bahasa Aceh. Sekecil inikah fungsi Bahasa Aceh dalam kehidupan nyata kita? Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti fungsi Bahasa Aceh hanya tinggal pada konteks makian atau lucu-lucuan saja, seperti yang dipertontonkan dalam komedi-komedi.

Satu penyebab terbesar kepunahan sebuah bahasa adalah karena bilingualisme atau beralihnya sekelompok manusia ke bahasa kedua, meninggalkan bahasa pertamanya secara perlahan melalui beberapa tahapan generasi. Kita tentu saja tidak bisa menyalahkan atau melarang penggunaan Bahasa Indonesia demi menyelamatkan Bahasa Aceh. Sejak berabad-abad lalu, Bahasa Indonesia, yang lahir dari Bahasa Melayu Tua, telah menjadi bahasa penghubung berbagai bangsa di Asia Tenggara. Yang perlu kita lakuk an adalah menyelamatkan Bahasa Aceh dengan cara meluaskan fungsi dan perannya agar bersaing dengan Bahasa Indonesia.

Telah banyak contoh-contoh kasus di berbagai belahan dunia di mana dua bahasa bisa bersama-sama tumbuh kuat. Di Kanada, Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis sama-sama berstatus tinggi. Di Filipina, masyarakatnya bisa menulisa dan membaca dalam Bahasa Tagalog dan Bahasa Inggris. Di Cina, Bahasa Cantonese pun bisa menjadi bahasa medium belajar di sekolah, tidak hanya Bahasa Mandarin saja. Bahasa Aceh pun harusnya bisa mengakomodir bukan hanya pembicaraan “basa-basi”, namun juga topik-topik serius seperti politik, ekonomi, sains, dan sosial budaya.

Memajukan sastra
Satu cara menyelamatkan sebuah bahasa dari kepunahan adalah dengan memajukan sastranya. Sastra di sini tidak terbatas pada puisi atau pantun, namun segala macam bentuk literasi; cerita pendek, majalah, buku cerita anak, poster, komik, dan lain sebagainya. Ini semua harus ditulis dengan meru juk pada sebuah ejaan baku. Tentu saja ini bagian yang tidak mudah. Ambil contoh deretan lé, lheè, dan le. Kata-kata yang cukup tinggi frekuensi pemakaiannya ini, saat ini ditulis dengan berbagai cara oleh penuturnya.

Sedikit merepotkan memang menghabiskan sedikit waktu untuk mencari tahu ejaan bakunya di Kamus Bahasa Aceh, saat orang-orang pada akhirnya akan memaklumi dan mengerti kesalahan penulisan kita dengan bantuan konteks kalimatnya. Mungkin orang akan berkilah, toh hanya untuk komunikasi informal seperti status facebook, untuk apa repot-repot menulis dengan ejaan yang baku. Masalahnya, poster-poster dan tulisan-tulisan resmi lainnya pun penuh dengan ejaan yang tidak tepat dan tidak seragam satu dengan lainnya.

Lihat bagaimana tegasnya seorang guru Bahasa Inggris memastikan anak didiknya menulis ejaan Bahasa Inggris dengan benar. Padahal sistem penulisan Bahasa Inggris itu jauh lebih berantakan dari pada sistem penulisan Bahasa Aceh. Bunyi dan huruf yang berbe da jauh dalam tulisan membuat anak-anak SD di Inggris terpaksa menghafal huruf-per-huruf untuk kata-kata yang ejaan bunyi dan hurufnya tidak konsisten, agar bisa menulis Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Bayangkan bila mereka boleh menulis dengan cara sesuka hati, seperti yang kita lakukan dengan Bahasa Aceh. Mungkin Bahasa Inggris tidak akan pernah menjadi bahasa resmi dunia. Ejaan yang standar itu penting dan bisa mengangkat status sebuah bahasa.

Berbicara tentang standarisasi sistem penulisan, ada dua hal penting yang harus ditempuh. Pertama, meresmikan standar yang disepakati oleh semua kalangan. Ini memang sebuah hal problematik mengingat penutur Bahasa Aceh itu sendiri terpecah kepada beberapa dialek. Kata yang sama dilafalkan berbeda oleh dua penutur dialek yang berbeda. Kata ‘petik’ diucapkan sebagai pèt oleh penutur dialek Aceh Besar, dan pet oleh penutur dialek Aceh Utara. Solusi untuk masalah ini ada dua; yang pertama, memilih dialek yang paling besar juml ah penuturnya, atau kedua, tidak berpatok pada dialek manapun; bentuk baku setiap kata dipilih dari bentuk yang paling popular di percakapan antardialek. Masalah lain yang harus dipikirkan adalah aturan penyerapan kata-kata asing dan menyesuaikan ejaanya ke dalam Bahasa Aceh standar.

Halaman selanjutnya 12
Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »