GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Sira Aceh tak Asin Lagi?

Sira Aceh tak Asin Lagi?

Opini Sira Aceh tak Asin Lagi? SIAPA yang tidak kenal dengan garam? Pasti semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua, akrabSenin, 18 Desember 2017 08:43Petani merebus air asin untuk pr…

Sira Aceh tak Asin Lagi?

Opini

Sira Aceh tak Asin Lagi?

SIAPA yang tidak kenal dengan garam? Pasti semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua, akrab

Sira Aceh tak Asin Lagi?Petani merebus air asin untuk proses pembuatan garam di lokasi Ladang Garam, Kecamatan Blang, Mangat, Lhokseumawe

Oleh Mahlinda

SIAPA yang tidak kenal dengan garam? Pasti semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua, akrab dengan garam. Garam adalah suatu zat penghasil rasa asin berbentuk kristal padat dan berwarna putih diperoleh dengan cara mengeringkan air laut, baik dengan menggunakan sinar matahari atau dengan proses penguapan menggunakan bahan bakar (kayu bakar).

Di Aceh garam dikenal dengan sebutan sira, umum digunakan oleh ibu-ibu rumah tangga atau rumah makan sebagai pelengkap bumbu masak. Tanpa garam, dipastikan rasa masakan akan hambar dan tidak enak di lidah. Di Aceh garam juga digunakan untuk pengawetan bahan pangan, seperti untuk pembuatan ikan asin atau mengawetkan belimbing wuluh menjadi asam sunti dan beberapa kegunaan lainnya.

Dalam beberapa hari terakhir ini, sira Aceh tengah menjadi polemik yang dipicu oleh pernyataan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Konsmetik (LPPOM) MPU Aceh bahwa sebagian besar garam yang diproduksi di Aceh tidak dijamin kehalalanya, karena lahan yang digunakan sebagai tempat produksi garam tradisional itu tidak dilengkapi dengan pagar pembatas. Sehingga pada malam hari dilokasi tersebut keluar masuk binatang seperti kambing, sapi dan anjing dan pagi hari masuk juga ayam dan bebek. Hewan-hewan yang masuk kedalam area tersebut dapat saja membuang kotoran kecil atau besar di lahan tersebut. Bocah-bocah yang habis mandi pun seenaknya menginjak atau buang air kecil di lahan tersebut (Serambi, 4/7/2017).

Tidak berhenti di situ saja, kisruh sira Aceh semakin viral ketika Serambi Indonesia menurunkan Liputan Eksklusif di halaman pertama dengan judul “Mayoritas Garam Aceh Bernajis?” (Serambi, 13/12/2017) dan mendapat tanggapan beragam, seperti diberitakan (Serambi, 14/12/2017 dan 15/12/2017). Tentu saja adanya berita-berita tersebut, di samping menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat Aceh juga menimbulkan kiamat kecil bagi petani garam Aceh, yang sejak dulu sudah menderita. Di mana asinnya rasa garam, lebih asin kehidupan mereka. Dan, jika persoalan ini masih berlarut-larut yang akan kena dampaknya secara langsung adalah mereka para petani garam kecil.

Semangat tinggi
Terlepas dari adanya pro dan kontra atas status halal garam yang diproduksi secara tradisional tersebut, sejak dulu para petani garam di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya di Aceh menghadapi beberapa kendala dalam hal memproduksi garam yang ekonomis, higienis, dan memenuhi persyaratan mutu. Hanya semangat tinggi yang membuat mereka mampu untuk bertahan demi mencari uang untuk menghidupi keluarga. Bisnis garam tidak hanya terkendala dengan status halal saja, tetapi masih ada kendala lainnya yang dihadapi oleh para petani garam di antaranya pada proses produksi garam, proses yodisasi garam hingga penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Berbeda dengan sistem produksi garam seperti di Madura yang dapat menghasilkan garam tanpa menggunakan bahan bakar (kayu bakar). Produksi garam di Madura dilakukan dengan cara menjemur air garam tua (20-25o baume) langsung di bawah sinar matahari. Namun metode seperti ini, tidak cocok digunakan oleh petani garam di Aceh, karena perbedaan kondisi cuaca dan kondisi tanah.

Saat ini, hampir seluruh petani garam di Aceh mengolah garam dengan cara pemasakan menggunakan kayu bakar, tentu saja penggunaan kayu bakar sangat tidak ekonomis dan berpengaruh langsung pada biaya produk si tinggi, sehingga harga jual garam Aceh lebih mahal bila dibandingkan dengan garam yang diproduksi di luar Aceh. Jika tidak ada perubahan pada proses produksi garam tersebut, diyakini dalam jangka panjang usaha garam rakyat di Aceh akan gulung tikar dan tinggal nama saja.

Satu teknologi yang sedang dikembangkan dan cocok digunakan oleh petani garam Aceh untuk memproduksi garam secara ekonomis adalah dengan menggunakan teknologi geomembran. Geomembran adalah satu jenis plastik berwarna hitam berbahan baku HDPE, PCV atau LLDPE dan mempunyai karakteristik tahan terhadap air, sehingga air tidak susut masuk ke dalam tanah. Efek warna hitam dari geomembran tersebut menyebabkan proses penyerapan sinar matahari lebih intens, sehingga waktu proses kristalisasi garam berlangsung lebih cepat dan efisien, serta tidak perlu menggunakan bahan bakar, seperti kayu bakar.

Keunggulan lainnya dari produksi garam menggunakan geomembran adalah garam yang dihasilkan lebih putih, lebih ber sih dan mengandung kadar NaCl lebih tinggi, karena tidak terkontaminasi dengan tanah dari tambak garam. Kekurangan dari sistem geomembran ini adalah memerlukan biaya tinggi untuk pembelian bahan geomembran, yang harganya sekitar Rp 30.000 per meter persegi, tergantung dari ketebalan geomembran tersebut.

Halaman selanjutnya 12
Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Tidak ada komentar