GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

Opini Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh PROVINSI Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki bahasa terbanyak di Pulau SumatraSelasa, 19 Desember 2017 09:38Oleh: Dr. Mohd Harun, …

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

Opini

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

PROVINSI Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki bahasa terbanyak di Pulau Sumatra

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

Oleh: Dr. Mohd Harun, M.Pd

PROVINSI Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki bahasa terbanyak di Pulau Sumatra. Tercatat ada sepuluh bahasa yang masih digunakan oleh masing- masing etnis pemiliknya, yaitu (1) bahasaAceh, (2) bahasa Tamiang, (3) bahasa Gayo, (4) bahasa Alas, (5) bahasa Singkil, (6) bahasa Kluet, (7) bahasa Jamee, (8) bahasa Sigulai, (9) bahasa Devayan, (10) bahasa Haloban.

Dari sepuluh bahasa tersebut, ada bahasa yang dituturkan oleh mayoritas, yaitu bahasa Aceh dan ada pula bahasa yang ditutur kan oleh minoritas, yaitu bahasa Haloban danbahasa Kluet. Bahasa Aceh dituturkan oleh etnis Aceh yang mendiami wilayah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, sebagian besar Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Aceh Barat Daya, sebagian wilayah Aceh Selatandan Aceh Tamiang. Bahasa ini dianggap berkerabat dengan bahasa Campa atau termasuk rumpun Chamic (daerah Kamboja dan Vietnam), cabang dari rumpun bahasa Austronesia Barat.

Hal ini karena terdapat beberapa kosakata bahasa Aceh yang sama artinya dalam bahasa Campa. Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang komprehensif untuk membuktikan hal ini secara akademis. Bahasa Tamiang adalah bahasa yang digunakan di wilayah Aceh Tamiang, meliputi Kecamatan Bendahara, Karang Baru, Tamiang Hulu, Seruway, dan sebagian Kecamatan Kuala Simpang. Bahasa ini merupakandialek dari bahasa Melayu atau dapat disebutMelayu Tamiang, sama halnya dengan dialek Melayu Deli atau Melayu Riau.

Sementara itu, bahasa Gayo adalah bahasa yang sekarang digunakan di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Bahasa di dataran tinggi Aceh ini merupakan bahasa dengan jumlah penutur kedua terbanyak di Aceh. Belum ada penelitian yang sahih tentang kekerabatan bahasa ini, meskipun dalam kebudayaannyaterdapat warna Batak dan Aceh.

Bahasa Alas adalah bahasayang dituturkan oleh masyarakat di Aceh Tenggara. Menurut penelitian SIL Internasional,bahasa ini memiliki pertalian erat dengan bahasa Batak di Sumatra Utara. Selanjutnya, bahasa Kluet adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di empat kecamatan di Aceh Selatan, yaitu Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Timur, dan Kluet Tengah. Bahasa Kluet oleh SIL Internasional juga dianggap berkerabat dengan bahasa Batak.

Untuk membuktikan kebenaran penelitian SIL tersebut diperlukan penelitian yang mendalam, baik secara sinkronik maupun secara diakronik. Bahasa Singkil adalah ba-hasa yang digu nakan olehmayoritas masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil dan sebagian Kota Subulussalam.

Menurut SIL Internasional, bahasa ini diduga berkerabat dengan bahasa Karo. Namun, masyarakat etnis Singkil enggandikatakan bahasa mereka adalah dialek dari bahasa Karo. Bahasa Singkil memiliki beberapanama lain, seperti bahasa Julu, Boang, Kade-Kade, dan Kampong. Namun, secara politis tampaknya nama bahasa Singkil lebih berterima untuk digunakan di kalangan terdidik dan di jajaran pemerintahan.

Hal ini misalnya dapat dicermatidari penulisan kamus bahasa Singkil oleh Mu’azd Vohry yang berjudul NanggakhBasa Singkil (2016). Bahasa Jamee adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di sebagian Kabupaten Aceh Selatan, terutama di Kecamatan Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji Timur, dan Samadua. Bahasa ini juga digunakan di Kecamatan Kaway XI dan sebagian Meureubo di Aceh Barat, Kecamatan Susoh di Kabupaten Aceh Barat Daya, di sebagian Kota Subulussalam, Singkil, dan sebagian Kota Sinaba ng di Kabupaten Simeulue.

Bahasa inisebenarnya adalah bahasa Minangkabau yang dibawa bersamaandengan hijrahnya sebagian orang Aceh yang berkeluarga dengan orang Minang semasa Kerajaan Aceh Darussalam berjaya. Karena itu pula mereka disebut sebagai jamee atau tamu, yang dalam budaya Aceh harus dimuliakan. Di kemudian hari terjadilah migrasi orang Minang ke pantai Barat Selatan Aceh untuk mencarikehidupan yang lebih layak di negeri baru.

Halaman selanjutnya 12
Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Tidak ada komentar