GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Harmoni Bersama Hymne Aceh

Harmoni Bersama Hymne Aceh

Opini Harmoni Bersama Hymne Aceh CHENNAI Express sebuah film layar lebar India yang dibintangi oleh mega bintang India, Shah Rukh Khan (SRK) dan Deepika PadukoneSabtu, 18 November 2017 10:45…

Harmoni Bersama Hymne Aceh

Opini

Harmoni Bersama Hymne Aceh

CHENNAI Express sebuah film layar lebar India yang dibintangi oleh mega bintang India, Shah Rukh Khan (SRK) dan Deepika Padukone

Harmoni Bersama Hymne AcehSERAMBINEWS.COM/SUBUR DANIKetua Banleg DPRA, Abdullah Saleh dalam konferensi pers tentang sayembara hymne Aceh di DPRA, Selasa (17/10/2017).

Oleh Tibrani

CHENNAI Express sebuah film layar lebar India yang dibintangi oleh mega bintang India, Shah Rukh Khan (SRK) dan Deepika Padukone. Film yang berhubungan erat dengan multikultarisme Negara India, tentang perbedaan suku dan bahasa. Sinopsis dari film ini adalah SRK asal India bagian utara yang se hari-hari berbahasa Hindi dan campuran bahasa Inggris. Sedangkan Deepika dari India bagian Selatan, yang sehari-hari berbahasa Tamil. Konsisi ini sangat menyulitkan SRK memahami bahasa keluarga besar si gadis berparas cantik yang tidak bisa berbahasa Hindi itu.

Makna filosofi yang terkandung dalam film tersebut, menceritakan bahwa Negara sebesar India yang berpenduduk lebih dari 1 miliar jiwa, memiliki bahasa popular Hindi, tapi belum bisa menjadikan bahasa ini menjadi bahasa persatuan. Banyak penduduk di India tidak menjadikan bahasa Hindi sebagai bagian dari identitas mereka, tapi masih banyak menggunakan bahasa daerah mereka seperti, bahasa Tamil, Marathi, Bengali. dan lain sebagainya.

Ragam bahasa di Aceh
Di Provinsi Aceh, Bahasa Aceh merupakan bahasa paling populer dan akrab digunakan oleh sebagian besar masyarakat Aceh. Secara geografis bahasa ini digunakan oleh masyarakat sepanjang pantai Utara-Timur (mulai Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pid ie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur dan sebagian Kota Langsa). Di pantai Barat-Selatan (mulai Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, sebagian Aceh Barat Daya (Abdya), dan Aceh Selatan) memang menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa keseharian di dalam kehidupannya.

Namun tidak semua masyarakat Aceh menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa mereka. Ada juga suku anak bangsa lainnya, seperti Suku Gayo yang kesehariannya menggunakan bahasa Gayo. Sebagian besar etnis ini mendiami wilayah Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Lokop Aceh Timur, dan Pulo Tiga Aceh Tamiang. Ada juga suku Aneuk Jamee yang menggunakan bahasa Jamee (sejenis bahasa yang berasal dari Minangkabau), Suku bangsa ini tinggal di sebagian Aceh Selatan, Abdya, Aceh Barat.

Di Aceh Tamiang juga terdapat Suku Melayu yang menggunakan bahasa Melayu. Pada landskap geografis Simeulue ada Suku Simeulue yang mempunyai tiga bahasa yang dominan dalam kehidupan sehari-hari, yakni ba hasa Devayan, Sigulai, dan Leukon. Demikian pula Suku Kluet yang mayoritas tinggal di beberapa kecamatan di Aceh Selatan, seperti Kecamatan Kluet Utara, Kluet Timur, Kluet Selatan, dan Kluet Tengah. Mereka juga tidak berbahasa Aceh, tapi berbahasa Kluet.

Aceh yang memiliki beraneka-ragam suku, bangsa dan bahasa. Beberapa minggu lalu, DPRA mengadakan Lomba Cipta Hymne Aceh dengan total hadiah sebesar Rp 220 juta beserta plakat dan piagam penghargaan untuk tujuh pemenang. Kriteria hymne yang diperlombakan harus mencerminkan budaya Aceh, berlandaskan syariat Islam, aspek filosofis, historis, sosiologis, politis, dan dinamika masyarakat Aceh, dilantunkan dalam bahasa Aceh.

Kriteria yang mengharuskan himne Aceh dilantunkan kedalam bahasa Aceh, kemudian memunculkan polemik dan protes dari masyarakat Gayo melalui aksi damai yang dilakukan oleh Aliansi mahasiswa dan Pelajar Gayo. Mereka meminta DPRA untuk meninjau ulang lirik hymne itu, karena mendiskriminasikan keragaman yang ada di Provinsi Aceh. Mereka meminta untuk hymne Aceh tidak menggunakan bahasa Aceh, tapi diganti dengan bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia.

Keberagaman memang acapkali dijadikan alat untuk memicu munculnya konflik suku bangsa, ras, agama dan antargolongan (SARA) oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Keragaman yang ada di Aceh hendaknya dikelola secara maksimal tanpa mengeluarkan aturan kebijakan yang merugikan keberagaman yang ada di Aceh.

Dalam hal perbedaan, Allah Swt mengisyaratkan bahwa arti pentingnya komunikasi antarsuku-budaya, sebagaimana firman-Nya dalam Alquran, “Wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya di antara kalian saling mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13).

Komunikasi dua arah yaitu, komunikasi sosial dan budaya diperlukan untuk menghadirkan dialog yang konstruktif untuk dapat memahami antarsatu sama lainnya. M elalui dialog maka berbagai aspirasi masyarakat yang berbeda suku-budaya sehingga saling memahami apa kepentingan bersama. Dialog juga secara moral merupakan tindakan yang pantas untuk menemukan hubungan antar budaya-manusia, dan antar-manusia.

Tiga bahasa resmi
Menurut endatu, kita memiliki tiga bahasa resmi yang berlaku di seluruh Aceh, yakni Bahasa Aceh, Bahasa Melayu, dan Bahasa Arab. Bahasa Aceh digunakan sebagai bahasa sehari-hari rakyat dalam pergaulan sehari-hari. Sedangkan bahasa Melayu dipergunakan untuk komunikasi di Kerajaan Aceh Darussalam, adapun fungsi bahasa Melayu ketika itu adalah sebagai berikut, Bahasa Istana, Bahasa Sarakarta, Bahasa Ilmu Pengetahuan, Bahasa pengantar pengajaran, Bahasa pengucapan pasaran, Bahasa perhubungan antar-wilayah kerajaan, Bahasa media dakwah, Bahasa diplomasi, Bahasa suarat menyurat. Sedangkan bahasa Arab sebagai bahasa agama perhubungan antar ulama, bahasa pengantar pada dayah-dayah, dan bahasa perhubungang an antar negara-negara Islam (Hasbi Amiruddin, 2008: 181-183).

Pengalaman endatu kita dalam mengelola keberagaman, menurut hemat penulis patut diaplikasikan dalam lingkungan pemerintah. Walaupun kita dengan mereka berbeda lorong waktu hampir ratusan tahun, namun pola pikir endatu kita lebih maju untuk bisa hidup harmoni dalam keberagaman; perbedaan suku, ras dan etnis.

Sudah menjadi perhatian bersama, jika ingin mengeluarkan suatu kebijakan berhubungan dengan identitas keacehan, lebih baik diajak dan dirangkul bersama dengan suku lainnya yang ada di Aceh, karena Aceh ini milik bersama bukan kelompok tertentu. Dengan menerapkan pola itu, ke depannya Aceh akan lebih harmonis dalam perbedaan.

Tibrani, Mahasiswa Ilmu Politik dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP Unsyiah) Banda Aceh.

Editor: hasyim Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Tidak ada komentar