www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

thumbnail

Posted by On 18.06

Anggota Polres Aceh Barat Ditemukan Tewas Tertembak

Anggota Polres Aceh Barat Ditemukan Tewas Tertembak

Seorang anggota Polri yang bertugas di Polsek Samatiga, Polres Aceh Barat, Brigadir Iskandar

Anggota Polres Aceh Barat Ditemukan Tewas Tertembaktribun.medanIlustrasi

MEULABOH - Seorang anggota Polri yang bertugas di Polsek Samatiga, Polres Aceh Barat, Brigadir Iskandar (36), Selasa (17/4) malam sekira pukul 21.00 WIB ditemukan tewas di sebuah gubuk di Desa Suak Timah, kecamatan Samatiga. Dari bagian kepala korban bersimbah darah akibat luka tembak.

Kasus kematian Brigadir Iskandar dengan luka tembak di kepala langsung merebak luas di kalangan masyarakat. Korban ditemukan tewas bersimbah darah masih menggunakan pakaian dinas polisi dan sepucuk sen jata laras panjang berada di dekat korban.

Dari lokasi temuan, sekitar pukul 22.30 WIB tadi malam, jenazah korban dievakuasi ke RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh untuk memastikan penyebab kematiannya apakah bunuh diri atau dibunuh. Jenazah ayah tiga anak ini dibawa dengan ambulance dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.

Amatan Serambi, Wakapolres Aceh Barat Kompol Edy Bagus turut menyaksikan proses autopsi di ruang mayat RSU Cut Nyak Dhien. Sejumlah Kepala Satuan (Kasat) Polres Aceh Barat juga berada di rumah sakit.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK yang ditanyai Serambi, tadi malam membenarkan seorang anggotanya ditemukan meninggal bersimbah darah karena tertembak. “Yang bersangkutan tugas di Polsek Samatiga,” katanya.

Menurutnya, kasus tersebut masih diselidiki untuk memastikan apakah karena bunuh diri atau dibunuh. “Nanti kita kabari perkembangan pengusutannya,” demikian Kapolres Aceh Barat.(riz)

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

thumbnail

Posted by On 18.06

Hutan Aceh di Mata 'Donya'

Opini

Hutan Aceh di Mata ‘Donya’

SEBUAH artikel koran berjudul “Peulihara Uteun Aceh”, terpajang di dinding ruang kerja M Rizal Fahlevi Kirani

Hutan Aceh di Mata ‘Donya’Mongabay Indonesia / Junaidi HanafiahTaman Nasional Gunung Leuser yang telah berubah menjadi kebun jagung di Kabupaten Aceh Tenggara.

Oleh Chairul Fahmi

SEBUAH artikel koran berjudul “Peulihara Uteun Aceh”, terpajang di dinding ruang kerja M Rizal Fahlevi Kirani, Staf Ahli Gubernur Aceh periode 2012-2017. Artikel tersebut merupakan ulasan dan pesan-pesan Wali Negara Aceh, Tgk H Muhammad Hasan di Tiro. Rupanya, di Tiro, Pidie, tidak saja telah berhasil membangun satu gerakan politik etno-nationalism e serta kesadaran akan sejarah kedaulatan Aceh masa lalu, namun juga ada pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan beserta seluruh habitat dan ekosistemnya.

Pada masa konflik, hutan merupakan rumah bagi gerilyawan, sekaligus sumber penghidupan bagi para penebang. Saat damai, para gerilyawan meninggalkan hutan, namun penebang terus berjalan. Dilaporkan, kerusakan hutan Aceh mencapai 23.000 hektare atau sekitar 230 km2 per tahun. Jauh melibihi luasnya kota Banda Aceh yang hanya 61,36 km2 (Serambinews, 2014). Namun pada periode 2016-2017, jumlah pengrusakan terhadap hutan Aceh mengalami penurunan, yaitu mencapai 17.333 hektare (Gunawan, 2018).

Penebangan hutan umumnya dilakukan secara legal oleh perusahaan-perusahaan pemegang hak izin penebangan hutan, juga secara tidak sah (illegal logging) oleh para mafia hutan. Selain itu juga perambahan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan, khususnya kelapa sawit yang sedang mewabah di Aceh. Tanaman komoditas bagi bahan makanan, biofuel dan kosmetik ini tidak saja mengganti demografi hutan, tapi juga sejumlah kawasan lahan gambut yang menjadi tempat cadangan sumber air serta kaya biodiversitas.

Moratorium logging
Kebijakan politik dan strategis dalam rangka melestarikan hutan Aceh pernah dilakukan oleh Irwandi Yusuf, saat ia mengeluarkan Instruksi Gubernur Aceh untuk menghentikan penebangan hutan (moratorium logging), baik bagi pemegang izin maupun yang ilegal sampai waktu yang tidak ditentukan. Tujuan dari program ini, menurut Irwandi, bertujuan untuk meletakkan fondasi pengelolaan hutan yang lestari dan adil bagi rakyat Aceh (Detiknews, 2007).

Namun demikian, perlu ada upaya sosialisasi kebijakan strategis tersebut, termasuk Qanun No.7 Tahun 2016 tentang Kehutanan kepada seluruh stakeholder agar terbentuk suatu kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga, melestarikan, memanfaatkan sumber alam dari hutan secara berkesinambungan. Termasuk pemahaman tentang kategorisasi hutan sert a konsekuensi hukumnya, seperti hutan negara, hutan hak (hak konversi, hak produksi, dan hak lindung), dan hutan adat, yaitu hutan yang dikuasai dan dikelola oleh komunitas adat.

Selain itu, langkah progesif juga telah ditunjukkan oleh Gubernur dalam rangka law enforcement, seperti pencabutan Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUIPHHK) terhadap perusahaan sawmill Hakim Meriah di Bener Meriah, karena terbukti menjadi penadah hasil kayu-kayu yang ditebang secara ilegal (Mogabay, 2018). Apresiasi juga patut diberikan kepada pihak Polres Nagan Raya yang menangkap Kapolsek Beutong, karena diduga menjadi pelaku penebangan kayu secara ilegal di kawasan tersebut (Serambinews, 2017).

Pada November 2017 lalu, delegasi pemerintahan Aceh yang dipimpin oleh mantan ketua Fraksi Partai Aceh, Kautsar Abu Yus menghadiri konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Climate Change di Bonn, Jerman. Selain anggota legislatif, juga ikut serta staf ahli Gubernur Aceh bidang Hutan dan Lingkungan, M Rizal Falevi Kirani, Ketua PNA Kota Banda Aceh Tarmizi, serta beberapa tokoh Aceh lainnya.

Pertemuan tingkat tinggi para pemimpin dunia ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan The Paris Climate Change Agreement. Sebelum itu, telah ada beberapa perjanjian internasional tentang pentingnya manjaga dan melestarikan lingkungan, antara lain konvensi Stockholm 1972, Rio Declaration 1992, Kyoto Protocol 1997, Bali Road Map 2007, Copenhagen Accord 2009, dan terakhir Paris Agreement 2015.

Indonesia merupakan satu negara yang turut menandatangani perjanjian tersebut serta telah diratifikasi oleh DPR RI dalam sistem legislasi nasional (Straitstimes.com, 2016). Adapun tujuan dari kesepakatan Paris ini adalah untuk mereduksi emisi gas Carbon dioxide dan green house gasses lainnya.

Halaman selanjutnya 12
Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

thumbnail

Posted by On 04.46

VIDEO - Pejabat Eselon II Pemerintah Aceh, Dilantik

VIDEO - Pejabat Eselon II Pemerintah Aceh, Dilantik

Pelantikan ditandai dengan pengucapan sumpah dan janji jabatan, yang berlangsung di Gedung Serbaguna Setda Aceh.

VIDEO - Pejabat Eselon II Pemerintah Aceh, DilantikSERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIAWakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah melantik sembilan pejabat eselon II, di Lingkungan Pemerintah Aceh yang berlangsung di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Senin (16/4/2018).

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH â€" Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Senin (16/4/2018) sore melantik sembilan pejabat eselon II, di Lingkungan Pemerintah Aceh.

Pelantikan ditandai dengan pengucapan sumpah dan janji jabatan, yang berlangsung di Gedung Serbagu na Setda Aceh.

Baca: Yacht Sudah Tiba di Sabang

Baca: Cambuk tak Pengaruhi Investasi

Adapun kesembilan pejabat yang dilantik meliputi posisi Kepala Pelaksana BPBA, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, kemudian Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh.

Baca: Ustaz Somad Ceramah di Nagan

Posisi lainnya adalah Kepala Dinas Pertanahan Aceh, Kepala Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh, Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh, serta Kepala Pengadaan Barang dan Jasa Setda Aceh.

Mereka yang dilantik ini diklaim merupakan hasil uji fit & proper test yang dilakukan beberapa waktu lalu. (*)

Penulis: Budi Fatria Editor: Amirullah Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

thumbnail

Posted by On 04.46

Reformasi 'Aceh Carong'

Opini

Reformasi ‘Aceh Carong’

DALAM visi dan misi Pemerintah Aceh, Gubernur Irwandi Yusuf mencanangkan tiga program utama terkait

Reformasi ‘Aceh Carong’

Oleh Hamdani

DALAM visi dan misi Pemerintah Aceh, Gubernur Irwandi Yusuf mencanangkan tiga program utama terkait pendidikan, yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab, dan Aceh Teuga. Program Aceh Carong menekankan kepada prestasi pendidikan Aceh di tingkat nasional, di mana strategi yang ditempuh untuk meningkatkan prestasi tersebut melalui perbaikan fasilitas pendidikan, kualitas guru, dan peningkatan sistem.

Secara kualitas pendidikan Aceh berada pada peringkat ke-3 terendah di Indonesia atau secara Nasional, Pr ovinsi Aceh berada pada urutan 32 dari 34 provinsi. Padahal bila dibandingkan dengan jumlah anggaran yang dikucurkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mencapai rasio maksimal yaitu 20% dari total anggaran (acehprov.go.id, 28/2/2018). Sebab itulah kemudian program Aceh Carong dimunculkan.

Saya sangat bisa memahami kegalauan Bapak Gubernur dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah agar rangking Aceh menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang. Bagaimana tidak, Aceh yang sejak dulu diberikan gelar istimewa di bidang pendidikan namun justru selalu gagal dalam rangking terbaik Nasional. Aceh yang dulu bahkan mengajarkan tenaga-tenaga pengajar dari negara lain namun justru sangat tertinggal dalam dunia pendidikan.

Sangat sepakat
Saya juga sangat sepakat dengan saudara Affan Ramli yang dalam opininya Tafsir Kuno ‘Aceh Carong’ (Serambi, 14/3/2018) yang menulis bahwa “pemaknaan Aceh Carong tidak boleh sempit, di mana indikator prestasi pendidik an program Aceh Carong hanya diukur dengan nilai Ujian Nasional (UN) para siswa”. Namun haruslah lebih luas, bahwa konsep program Aceh Carong mampu menggambarkan filosofi pendidikan Aceh secara menyeluruh dalam berbagai aspek.

Menuju penyiapan sumber daya manusia (SDM) Aceh yang mampu merespons perubahan zaman dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dunia saat ini bahkan puluhan tahun yang akan datang dengan tetap mempertahankan indentitas keacehan dan nilai-nilai Islam dan iman, hingga mereka sanggup mengembalikan keharuman Aceh di pentas internasional seperti Aceh di masa kejayaannya. Dalam hal ini, saya meyakini Pemerintah Aceh sudah menyiapkan cetak biru (blue print) pendidikan Aceh jangka panjang untuk mengakomodir keinginan dan cita-cita rakyat Aceh.

Program Aceh Carong haruslah dapat melahirkan siswa-siswi Aceh yang memiliki kualifikasi terbaik lahir batin, berkarakter, memiliki mental juang tinggi dengan semangat pantang menyerah alias beuheu tungang dan ber-akhlaqul karimah. Soft skill semacam ini sangat penting untuk dimiliki oleh generasi muda Aceh terkini, jiwa militan keacehan tidak boleh pudar karena pengaruh perubahan zaman. Selain penguatan bersifat soft skill, program Aceh Carong juga harus dapat mencetak siswa-siswi yang memiliki keahlian dan keterampilan baik keterampilan di bidang umum maupun bidang khusus. Dengan hard skill yang mereka dapatkan dari lembaga pendidikan, maka akan sangat bermanfaat untuk menunjang kehidupan mereka di masa depan. Dengan hard skill yang berkualitas akan memudahkan mereka untuk mengakses dunia kerja dan memperoleh pekerjaan. Apalagi pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi, di mana penduduk dengan usia produktif (mencapai 64%) lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif dari 297 juta jiwa penduduk Indonesia, maka persaingan hebat tidak dapat dihindari.

Untuk menjawab tantangan tersebut dan upaya mengantisipasi dampak negatif dari bonus demografi , maka selayaknya Pemerintah Aceh mulai membenahi sektor pendidikan vokasi. Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 15 disebutkan “pendidikan vokasi yaitu merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana”.

Melalui pendidikan vokasi, program Aceh Carong akan berfokus pada peningkatan kualitas keahlian SDM yang memiliki kompetensi baik berstandar nasional bahkan internasional. Apalagi Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro, juga mengatakan bahwa pendidikan vokasi mulai 2018 ini menjadi program perioritas pemerintah bidang pendidikan (detik.com, 22/3/2018).

Langkah maju
Terobosan Gubernur Aceh membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan merupakan satu langkah maju dalam konteks paradigma baru pendidikan Aceh masa depan. Apalagi dengan mengirimkan sebanyak 10 orang siswa-siswanya untuk magang di perusahaan penerbangan Boeing Amerika Serikat (Serambi, 13/3/2018), tentu ini merupakan modal awal untuk mengembangkan lebih jauh sektor kedirgantaraan di Aceh suatu saat nanti.

Halaman selanjutnya 12
Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

thumbnail

Posted by On 16.31

Posila dan Brata Juara BLiSPI Aceh

Posila dan Brata Juara BLiSPI Aceh

Sekolah Sepak Bola (SSB) Posila Muara Satu, Lhokseumawe dan SSB Brata Reuleut, Bireuen, tampil sebagai juara

Posila dan Brata Juara BLiSPI Aceh

BANDA ACEH - Sekolah Sepak Bola (SSB) Posila Muara Satu, Lhokseumawe dan SSB Brata Reuleut, Bireuen, tampil sebagai juara pertama Liga Bola BLiSPI Nusantara Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2018 untuk kelompok umur 11/12 tahun (U-11) dan 13/14 (U-13). Kepastian itu diperoleh setelah mereka menang atas lawan-lawannya di Stadion Eks PT Arun, Lhoksumawe, kemarin.

Posila tampil sebagai juara setelah memupuskan ambisi SSB Meurak Jingga Bireuen, 1-0. Sementara Brata menghentikan perlawanan SSB Musara Gayo AD Takengon (Aceh Tengah), 5-4 (0-0) melal ui adu penalti. Dengan hasil itu, SSB Posila dan Brata akan mewakili Aceh ke even yang sama tingkat nasional di Medan, Sumatera Utara, 11-13 Mei mendatang.

Putaran semifinal daan final sepak bola pelajar tersebut ditandai dengan tendangan pertama oleh Ketua Dewan Pembina BLiSPI Provinsi Aceh, Drs Anwar Idris. Setelah itu, dilanjutkan dengan semifinal untuk kedua kelompok umum. Setelah istirahat siang, agenda dilanjutkan dengan babak final liga tersebut.

Pada final U-11, Posila mengalahkan Merak Jingga, 1-0. Gol tunggal kemenangan Posila dicetak Amar Hidayat Rais Setelah menerima umpan silang dari M Saputra Mauludin pada menit ke-20. Sementara pada final U-13, Brata menang 5-4 atas Musara Gayo AD Takengon, 5-4 melalui adu penalti. Babak tos-tosan itu harus dijalani kedua tim setelah dalam waktu 2x30 menit bermain imbang tanpa gol.

Ketua Dewan Pembina BLiSPI Provinsi Aceh, Drs Anwar Idris, dalam sambutannya pada acara itu mengatakan, dirinya tahun ini menyediakan beasiswa kepada semua pemain Liga Bola BLiSPI Nusantara Tingkat Provinsi Aceh yang jumlahnya 900-an orang. Beasiswa itu besarnya Rp 450 ribu per orang untuk U-11, dan Rp 750 ribu per orang untuk U-13.

“Karena itu, saya minta masing-masing SSB untuk segera menyiapkan syarat-syarat pemain untuk mendapatkan beasiswa itu sebelum Juni tahun ini. Syarat khususnya anak-anak harus bebas narkoba,” ujar Anwar Idris didampingi Ketua Panitia, Helmi Abdullah.(jal)

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

thumbnail

Posted by On 16.31

Banjir Rendam Jalan Ateung Teupat Kecamatan Bubon Aceh Barat

Banjir Rendam Jalan Ateung Teupat Kecamatan Bubon Aceh Barat

Hingga pukul 10.00 WIB, jalan itu masih bisa dilalui meski air dilaporkan terus meninggi. Jalan tergenang akibat meluapnya Krueng Woyla.

Banjir Rendam Jalan Ateung Teupat Kecamatan Bubon Aceh BaratISTBanjir merendami Jalan Ateung Teupat Aceh Barat, Senin (16/4/2018).

Laporan Rizwan | Meulaboh

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH - Hujan deras melanda Aceh Barat menyebabkan jalan antarkecamatan di Ateung Teupat, Kecamatan Bubon, terendam banjir, Senin (16/4/2018).

Kawasan tersebut merupakan kawasan yang selama ini menjadi kawasan langganan banjir, jika terjadi hujan lebat. Akibatnya berdampak pada terganggunya transportasi darat.

(Baca: Geram Lihat Gaya Pacaran Anak Zaman Sekarang, Intan Nuraini Posting Kritikan Pedas)

(Baca: Dituding Orang Bayaran Cikeas Karena Dianggap Tak Pernah Kritik SBY, Begini Tanggapan Rocky Gerung)

(Baca: Rizal Ramli: Aceh Dikasih Uang Banyak, Kok Nggak Jadi Apa-apa, Jangan-jangan)

Hingga pukul 10.00 WIB, jalan tersebut masih bisa dilalui meski air dilaporkan terus meninggi. Air yang menggenangi jalan tersebut berasal dari meluapnya aliran Krueng Woyla.

Beberapa warga melaporkan rendaman banjir sudah dua hari terakhir terjadi karena dilanda hujan lebat.

"Kami berharap perhatian Pemkab dengan harapan ke depan tidak lagi banjir," kata Jufri, warga Woyla.(*)

Penulis: Rizwan Editor: Safriadi Syahbuddin Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

thumbnail

Posted by On 16.31

Ini Sembilan Pejabat Baru Eselon II yang Dilantik Wagub Aceh

Ini Sembilan Pejabat Baru Eselon II yang Dilantik Wagub Aceh

Pelantikan tujuh pejabat hari ini, merupakan tindak lanjut dari pernyataan Gubernur Aceh sebelumnya.

Ini Sembilan Pejabat Baru Eselon II yang Dilantik Wagub AcehSERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIAWakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah melantik sembilan pejabat eselon II, di Lingkungan Pemerintah Aceh yang berlangsung di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Senin (16/4/2018).

Laporan Herianto | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Senin (16/4/2018) sore melantik sembilan pejabat eselon II Jajaran Pemerintah Aceh.

Pelantikan akan berlangsung di Gedung Se rbaguna Setda Aceh, dihadiri Sekda Aceh, Dermawan, Asisten I Setda Aceh, Dr Iskandar A Gani, Asisten II Setda Aceh, dr Taqwallah dan sejumlah Kepala SKPA.

Baca: Sore Ini, Wagub Akan Lantik Sejumlah Pejabat Eselon II Pemerintah Aceh, Jumlahnya Masih Rahasia

Sembilan pejabat eselon II yang dilantik adalah:

Sembilan pejabat baru eselon II yang dilantik Wakil Gubernur Aceh, di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Senin (16/4/2018).
Sembilan pejabat baru eselon II yang dilantik Wakil Gubernur Aceh, di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Senin (16/4/2018). (SERAMBINEWS.COM/HERIANTO)

1. Teuku Ahmad Dadek, SH sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh

2. Dr. H. Roeslan Abdul Gani, M.Pd sebagai Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Aceh

< p>3. Cut Yusminar, A.Pi., M.Si sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh

4. Abdul Manan, SP., MM sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh

5. Drs. Muhammad Raudhi, M.Si sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh

Halaman selanjutnya 12
Penulis: Herianto Editor: Yusmadi Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh