www.AlvinAdam.com


Berita 24 Aceh

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Merajut Kembali Ikatan Aceh-Tarim

Posted by On 15.22

Merajut Kembali Ikatan Aceh-Tarim

Citizen Reporter

Merajut Kembali Ikatan Aceh-Tarim

SAYA merasa senang membaca berita Serambi Indonesia edisi Selasa, 28 November lalu berjudul ‘Alawiyin Aceh Difasilitasi

Merajut Kembali Ikatan Aceh-TarimAIDIL RIDHWAN

OLEH AIDIL RIDHWAN, putra Pante Garot, alumnus Dayah Ummul Ayman, Samalanga, melaporkan dari Tarim, Yaman

SAYA merasa senang membaca berita Serambi Indonesia edisi Selasa, 28 November lalu berjudul ‘Alawiyin Aceh Difasilitasi Belajar ke Yaman’. Di berita itu disebutkan bahwa para alawiyin (keturunan Nabi Muhammad saw dari jalur Sayyidina Ali, suami Sayyidah Fathimah) Aceh yang berprestasi akan diberi beasiswa belajar ke Rubat, Kota Tarim, Provinsi Hadhramaut.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Rabithah Alawiyah Pidie dan Pidie Jaya, Sayyid Muslim Hasan Bahsien atas permintaannya kepada Ketua Rabithah Alawiyah Pusat di Jakarta, Habib Zen Umar Smith saat mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas).

Saya rasa, kita perlu bersyukur dengan adanya berita seperti itu. Bagaimana tidak, hingga saat ini masih sangat minim pelajar Acehâ€"khususnya kaum alawiyinâ€" yang menuntut ilmu di Kota Tarim ini. Terkhusus lagi di Pesantren Rubat. Bahkan, sejak tiga tahun belakangan ini, tidak satu pun saya dapati pelajar Aceh yang belajar di Rubat.

Di Tarim, ada beberapa instansi yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mendalami ilmu agama. Sebut saja semisal Rubat Tarim, Darul Musthafa, Universitas Al Ahgaff, Madrasah Alaydrus, dan Darul Ghuraba. Namun, dari kesemuanya itu, hanya tiga pertama yang banyak diminati pelajar-pelajar mancanegara, termasuk Indonesia.

Rubat Tarim dan Darul Musthafa merupakan instansi bercorak seperti dayah-dayah di Aceh. Sistem belajar dan kurikulum pembelajarannya tidak terlalu berbeda dengan dayah di Aceh. Sementara Al Ahgaff, instansi berupa universitas yang memadukan sistem pondok dan kuliah. Selain mempelajari buku-buku modern, kurikulumnya juga belajar kitab-kitab klasik.

Sementara itu, hingga saat ini pelajar Aceh di Tarim totalnya hanya berjumlah 13 orang yang terbagi atas sebelas orang di Universitas Al Ahgaff, satu orang di Darul Musthafa, dan satu orang lagi di Madrasah Alaydrus. Kalkulasi seperti itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pelajar-pelajar Indonesia di Tarim dari provinsi-provinsi lain.

Padahal, jika kita runut sejarah tentang ikatan dengan Tarim, di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia, Aceh tak kalah juga eratnya dengan kota yang berjuluk “Kota Alquran” ini. Menurut sejarah, ada beberapa alawiyin berasal dari Tarim yang menyebarkan ilmu agama ke Bumö Aceh tercinta. Sebut saja seperti Tgk Dianjong yang bernama lengkap Al Habib Abu Bakar bin Husein Bilfaqih.

Bilfaqih adalah salah satu klan alawiyin di Tarim yang dinisbahkan kepada Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, seorang ulama besar pada masanya yang mendapat julukan ‘Orang yang sangat alim di dunia ini’. Makam beliau masih terpelihara dengan baik di Zanbal, salah satu pemakaman di Tarim.

Ratusan tahun setelah Tgk Dianjong wafat, masih menurut sejarah, salah seorang alawiyin yang nasabnya bersambung dengan alawiyin-alawiyin di Tarim juga menginjakkan kakinya ke Aceh. Beliau adalah Al Habib Abdurrahman Az Zahir. Tak sekadar berdakwah, Habib Abdurrahman Az Zahir juga menjabat sebagai komandan peperangan Aceh melawan Belanda. Makanya tak bisa dielak, peran kedua habib tersebut di Aceh tidak bisa dilupakan begitu saja.

Bilfaqih dan Az Zahir adalah dua marga keturunan Rasulullah saw. Silsilah kedua marga tersebut bertemu di Al Imam Al Faqih Al Muqaddam yang bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Al wi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Al Muhajir ilallah Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al ‘Uraidhi bin Jakfar Asshadiq bin bin Muhammad Al Baqir bin Ali bin Husein bin Sayyidina Ali, suami dari Sayyidah Fathimah binti Rasulullah saw.

Sebagai akhir dari reportase ini, saya ingin menyampaikan pesan kepada segenap alawiyin di Aceh yang merupakan juga pesan dari habaib di Tarim kepada segenap Alawiyin agar kembali lagi menempuh jalan yang pernah ditempuh kakek-kakek kalian yang mulia, yaitu dengan belajar ilmu agama, beramal, dan menyebarkannya dengan dakwah bil mauidhah wal hasanah, dakwah dengan kelembutan, bukan dakwah yang mencaci maki.

Dengan adanya kembali akses bagi pelajar Aceh, khususnya alawiyin untuk menimba ilmu di Tarim, semoga bisa mengeratkan kembali ikatab yang pernah terjalin dari kedua wilayah bersyariat ini. Dengan harapan, semoga keislaman yang telah dikembangkan oleh ulama-ulama kita di Aceh semakin bersinergi dengan bantuan dakwah-dakw ah dari para alawiyin/habaib. Semoga.

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »