Meulumpo 'Aceh Carong'

Meulumpo 'Aceh Carong' Opini Meulumpo ‘Aceh Carong’ MENARIK membaca tulisan Azwardi, “Mewujudkan `Aceh Carongâ€...

Meulumpo 'Aceh Carong'

Opini

Meulumpo ‘Aceh Carong’

MENARIK membaca tulisan Azwardi, “Mewujudkan `Aceh Carong’ Melalui Kegiatan Literasi” yang dimuat Serambi Indonesia

Meulumpo ‘Aceh Carong’CALON Kepala Sekolah (Kepsek) SD/SMP jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Agara mengikuti seleksi jadi Kepsek di Gedung P3G Bambel

Oleh Zubir

MENARIK membaca tulisan Azwardi, “Mewujudkan `Aceh Carong’ Melalui Kegiatan Literasi” yang dimuat Serambi Indonesia (Senin, 30/10/2017). Usulan konkret yang disampaikan Azwardi untuk menggenggam program Aceh Carong adalah melalui Gerakan Literasi Sekolah. Tentu, tidak ada yang salah, bahwa “Membacalah agar kamu mengenal dunia , dan menulislah supaya engkau di kenal dunia”. Namun, ada yang ingin saya tambahkan dalam tulisannya.

Azwardi hanya melihat bahwa kesemrautan literasi Indonesia berada di ruang lingkup sekolah. Artinya, ketika hanya ada satu di antara seribu orang yang gemar membaca, maka ada “sesuatu” dengan sekolah. Bahwa ketika budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk ke-2 dari 65 negara yang diteliti, maka ada yang salah dengan sekolah. Bahwa ketika daya baca yang dimiliki anak Indonesia juga terbatas pada kemampuan baca paling dasar, sekadar memahami teks tunggal berbasis kertas, bukan teks-teks kompleks atau teks multimedia berbasis komputer, juga harus ada yang dibenahi di sekolah.

Dalam kacamata penulis, peguruan tinggi (PT) justru memiliki andil besar dalam mewujudkan Aceh Carong. Namun, PT tidak bisa berdiri sendiri, harus ada titik yang mempertemukan antara program yang diamanatkan melalui Kurikulum Pendidikan di sekolah, dengan Tri Darma Perguruan Tinggi.

Harus mengakar di kampus
Gerakan Literasi harus mengakar di kampus. Betapa sudah menjadi rahasia umum akan praktik jual jasa intelektual dalam bentuk pembuatan skripsi. Sehingga sering kita lihat di lingkungan kerja, para sarjana yang kelimpungan ketika berurusan dengan tulis menulis. Jasa pembuatan skripsi telah menodai dunia literasi kampus.

Dalam kegiatan perkuliahan, belum semua PT mewajibkan mahasiswanya untuk membaca sejumlah buku atau jurnal sebagai syarat mengambil dan menyelesaikan sebuah mata kuliah. Dalam pelaksanaan ujian (Final Examination) masih banyak yang menggunakan butir soal yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat, 1-2 jam. Harusnya di PT, bentuk ujian sudah menuju model ujian esai (essay exams), penulisan paper atau project sesuai program studi masing-masing, yang harus dikerjakan dengan menggunakan penalaran tingkat tinggi.

Dalam hal prestasi di bidang literasi ilmiah, PT di Aceh belum-bahkan jauh dari mengembirakan. Satu indikator melihat kegembiraan literasi ilmiah di PT, kita bisa mengacu pada keterwakilan mahasiswa dari PT di Aceh dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang sejak 1988, sudah 30 kali dilaksanakan.

Sejak Pimnas digelar, belum ada satu pun PT dari Aceh, yang masuk dalam daftar 10 besar perolehan medali. Alhamdulillah, sedikit cahaya datang dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang pada 2016 meloloskan enam tim PKM ke Pimnas, lalu 2017 meningkat menjadi 9 tim, dari 415 proposal yang dikirim (aceh.tribunnews.com). Maka langkah visioner yang wajib digagas ke depan adalah melipat-gandakan jumlah proposal yang dikirim. Pada 2018 minimal harus mengirim 700 proposal, 2019 sebanyak 1.000 proposal, 2020 sebanyak 1.300 proposal, hingga mencapai angka 2.000 proposal.

Ini baru satu sub bab terkecil yang perlu digagas. Tidak hanya Unsyiah, tapi seluruh PT di Aceh harus dan wajib merancang program secara terukur, realistis, untuk menuju PIMNAS. Menjawab tantangan ini, Irwandi perlu tu run untuk berkoordinasi dan mendesain Aceh Carong dengan semua PT di Aceh. Mengomunikasikan semua permasalahan di PT, dan menetapkan solusinya melalui program-program visioner. Menjadikan Aceh sebagai kiblat pendidikan Indonesia, adalah bentuk lain dari Aceh Carong.

Mewujudkan Aceh Carong dari tangan akademisi dapat melalui riset dan publikasi ilmiah, baik yang dipublikasi di jurnal Nasional terakreditasi, maupun di jurnal internasional yang bereputasi. Menurut Muhamamad Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, dalam sambutannya pada buku Profil 50 Besar Institusi Indonesia Terindeks Scopus, satu indikator kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari suatu negara adalah banyaknya hasil penelitian yang dipublikasikan dan dimanfaatkan.

Halaman selanjutnya 12
Editor : bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Aceh

COMMENTS

Tulis Artikel
Nama

Edukasi,1,Lokal,6,Olahraga,2,
ltr
item
Berita 24 Aceh: Meulumpo 'Aceh Carong'
Meulumpo 'Aceh Carong'
http://cdn2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images/calon-kepala-sekolah-kepsek-sdsmp-jajaran_20171105_072258.jpg
Berita 24 Aceh
http://www.aceh.berita24.com/2017/11/meulumpo-aceh-carong.html
http://www.aceh.berita24.com/
http://www.aceh.berita24.com/
http://www.aceh.berita24.com/2017/11/meulumpo-aceh-carong.html
true
7456172371658692192
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy